featured old memories

Balada si Penyu Hitam

10.56.00Unknown

Cinta di batas asa

image by pixabay
Seperti biasa, saat itu Si Penyu sedang merayap. Yang tidak biasa adalah hamparan di hadapannya yang tampak terang benderang. Si Penyu memaksakan melihat ke langit, ah rupanya Sang Bulan hadir malam ini, “terima kasih” gumamnya.

Ternyata Sang Bulan mendengar gumamnya itu, kemudian membalasnya dengan tersenyum. Si Penyu tercekat, setelah puluhan tahun hidup dalam kegelapan, hanya beberapa kali saja dia melihat kehadiran Sang Bulan, hanya sekejap, dan Sang Bulan biasanya berlalu. Dalam hatinya yang hitam Si Penyu berharap, semoga kali ini Sang Bulan tidak pergi secepat yang sebelumnya.
Sebenarnya Si Penyu ingin mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya, dan berharap Sang Bulan akan tertawa, namun lehernya yang dipaksa tertengadah ke langit tak menyisakan ruang untuk jakunnya bergerak, sehingga dengan malu Si Penyu memilih menundukkan kepala saja lalu melanjutkan merayap. Semoga ada apel yang jatuh dari pohon untuk sarapan malam ini.
Si Penyu melihat sekitar, hey, rupanya ada banyak penyu lain, mereka semua juga tertolong. Sinar Sang Bulan yang ramah itu ternyata bukan hanya untuknya. Si Penyu terbiasa hidup dengan tempurungnya yang berat, seolah beban itu begitu kekal di punggungnya. Sesekali dia mengeluh, lantas berdoa dengan kacau, semoga tempurungnya bertransformasi menjadi sayap-sayap malaikat, sehingga nanti kemanapun Sang Bulan pergi akan bisa dia ikuti, dan senyum itu takkan luput dari pandangannya, kapanpun. Namun semesta memiliki hukumnya sendiri, Si Penyu sadar, tidak ada ekslusifitas, doa yang isinya minta diistimewakan tentu saja menyalahi hukum. Sehingga doa itupun ditelannya kembali. Tak apa, Sang Bulan adalah Sang Bulan, sedang dirinya adalah Si Penyu hitam, harapannya hanyalah semoga sinar Sang Bulan bertahan lebih lama, memberinya penglihatan yang baik, ketika tak ada apel tersisa di bumi, semoga masih ada senyum Sang Bulan, untuknya bertahan hidup.
Si Penyu memang gila, kegelapan membuatnya sulit menyadari, bahwa twitter bukanlah wordpress

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

English German French Arabic Chinese Simplified We use cookies to improve your experience. By your continued use of this site you accept such use. Thank You.