old memories om

Jauhnya cinta, diseberang sana

09.57.00Unknown

hingga lenyap dan sunyi kembali

image by pixabay


Menyimak kisah percintaan seorang sahabat yang terpisahkan oleh lautan, seru, dan miris.


Sebutlah si I yang bekerja sebagai seorang video editor di sebuah televisi nasional di Indonesia. Kesibukan bekerja sebagai video editor tidak sama dengan pegawai negeri. Jadwalnya bisa sangat fleksibel, dan bisa sangat penuh tekanan bila sedang kejar tayang. Tidur di pagi hari dan kembali bekerja mulai dari siang hingga keesokan paginya lagi, bukanlah hal yang jarang terjadi. Tidak sehat dan sangat berbahaya.

Adapun kekasih si I kita sebut saja si D adalah seorang pegawai negeri di pulau seberang, yang tiga tahun sebelumnya mereka berdua menempuh jenjang studi S1 di kota yang sama di pulau Jawa. 

Sebelum perpisahan, mereka sudah berkomitmen untuk melanjutkan hubungan mereka dan mengusahakan adanya jalan keluar agar mereka bisa menyatu kembali. Si D tak bisa menolak tawaran menjadi pegawai negeri karena meyakini bahwa menjadi pegawai negeri akan lebih menjamin masa depan mereka. Si I tidak keberatan sama sekali. Dia yakin akan ada jalan keluar, yang ada difikirannya adalah mencari pekerjaan di pulau yang sama dengan si D.

Untuk melepas kerinduan satu sama lain, mereka sering memanfaatkan teknologi video call, berbincang sambil bertatapan. Setelah satu tahun berjalan hal itu tidak lagi cukup. Si I mulai lebih serius menabung agar bisa mengunjungi si D di pulau seberang sana.

Menanti dengan penuh kerinduan si D adalah wanita yang sangat tabah, bahkan saat orangtuanya memutuskan untuk mencarikan jodohnya. 

Bisa ditebak apa yang akan terjadi. Si D mengalami dilema, perasaannya tidak bisa didikte, hatinya sudah kadung tertambat pada seseorang yang jauh disana. Si D menyesal, mengapa tidak dari dulu saja Si I diperkenalkan pada orang tuanya, agar orang tuanya melihat sendiri pacarnya itu seperti apa. Selama ini Si D memang sering bercerita tentang pacarnya, namun hal ini tidak serta merta membuat orang tuanya simpati. 

Cerita satu arah dari Si D pada orangtuanya, tidak terkonfirmasikan. Dan orangtua si D mendapatkan informasi lain yang berujung pada hilangnya kepercayaan pada anak mereka, sehingga memutuskan untuk mengambil alih kemudi masa depan si D.

"Cinta saja tidak cukup untuk hidup. Untuk hidup seseorang perlu punya kemampuan, bukan hanya perasaan."

"papa dan mama, akan memilihkan jodoh terbaik untukmu"

Kata-kata orangtuanya berputar-putar di kepala si D. Mendadak tubuhnya jauh lebih kurus dari sebelumnya. Keadaannya melemah, siapapun yang sudah mengenal si D akan mampu melihat bahwa si D kehilangan senyum manisnya, dia lebih banyak menunduk sekarang, seolah beban seisi bumi dipikul di pundaknya.

Si I begitu mendengar bahwa hubungan mereka akan dijegal, menjadi beringas, dan memutuskan untuk meminjam sejumlah dana dari teman-temannya. "Mungkin orang tuanya si D akan bisa mengubah keputusan itu kalau dia datang langsung", pikirnya.

Senangkah si D dengan rencana si I tersebut..?

Rencana si I tidak diberitahukan pada si D, hingga tiba-tiba kekasihnya itu sudah nongkrong di depan kejaksaan tempat si D bekerja. 

Mereka bertatapan...

Keduanya berdiri mematung selama sembilan menit. Sampai si I membuyarkan kekakuan itu dengan mengatakan "aku belum makan dari kemarin, aku ingin makan bersamamu sekarang, tukang pecel lele ada nggak disini?"

"ada tapi malam, kita makan nasi lemak aja, di samping dermaga..."

"okay.."

Mereka segera meluncur ke dermaga, dan memesan dua porsi nasi lemak setibanya di sana.

"aku kangen banget sama kamu.." si I menatap lekat mata kekasihnya.

"aku juga.." Si D menjawab tanpa berkedip.

"Mau berapa lama disini? " tanya si D sambil mengalihkan tatapannya, pada dua porsi nasi lemak yang sedang diletakkan di meja. 

"Selama yang dibutuhkan untuk merebutmu dari orang tuamu" senyum si I menjawab, sambil membersihkan sendok mereka dengan sehelai tissue.

"Orang tuaku sulit diajak negosiasi, mereka tak suka menawar, dan tidak bisa ditawar" si D menatap cemas, tanpa peduli pada nasi lemaknya.

"Masalahnya apa sih, kenapa orangtuamu tidak merestuiku? sambut si I sambil menyendok nasi lemak.

"Orang tuaku kenal semua orang di pulau ini, kamu ngga akan aman, sebaiknya kamu pulang sekarang juga" Si D berkata pelan penuh tekanan.

"Maksudmu, orang tuamu dikenal oleh semua orang disini, karena pejabat daerah? si I balik bertanya, mulutnya yang sedang mengunyah tidak bisa menyembunyikan guratan sinis di sudut kiri atas bibirnya."

"Yang kamu khawatirkan adalah orangtuamu, sedang aku tidak kamu khawatirkan?" wajah si I memerah, rupanya sambal yang dia tuangkan sangat pedas. Dia lupa, di pulau ini, semua orang suka pedas, jadi sambalnya sudah pasti extra pedas, mestinya barusan dia ambil separuh sendok saja.

"Melawan orang tua juga tidak ada menangnya, kalau mau berkunjung silakan, tapi bicara yang baik sama mereka ya..: Si D memohon.

"Apa kamu masih menginginkan aku?" si I bertanya, tanpa menoleh, dia sibuk menyingkirkan biji cabai yang bertebaran di piringnya.

"Cintaku tidak berubah, hanya kamu seorang" si D masih belum juga menyentuh nasi lemaknya.

"Kalau begitu aku akan membawamu pergi, dengan ataupun tanpa restu orang tuamu, bila orang tuamu melarang aku, maka mereka akan aku hadapi, baik secara fisik maupun non-fisik." si I, berkata geram, dia menyesal terlalu banyak menaruh sambal, jadinya malah tersiksa oleh pedas.

"Aku tidak mau menjadi anak durhaka, bila aku harus menderita karena apa yang mereka lakukan, maka biarlah terjadi begitu." si D menjawab dengan mata berkaca-kaca.

"Hmm.. kalau begitu lebih baik kusingkirkan orang tuamu sekalian, akan kukatakan bahwa anak mereka bukan kambing yang harus dipasung kebebasannya."

"Jangan..." Si D berkata lirih, dengan air mata berjatuhan hingga membuat blus coklatnya basah.

"Akan aku katakan pada mereka, seperti apa aku berkorban untukmu, bahkan saat mereka menginginkan kamu bekerja dekat dengan mereka aku tidak mempertanyakan sedikitpun, dan aku sudah bersabar karena kupikir akan lebih baik bagimu bila tinggal dekat dengan orang tua" Si I membiarkan nasi lemaknya begitu saja, selera makannya sudah hilang.

"Jodohmu itu siapa? masih orang kantor papa? si I mulai mengorek informasi.

"Aku belum tahu, katanya nanti juga dikenalkan." si D bersuara tanpa tenaga, dia merasa melayang, lemas.

Dua detik kemudian, si D terkulai lemas dan jatuh ke sisi kanan kursinya, saat si I sedang berusaha menyalakan rokok yang hampir mati oleh sapuan angin di dermaga.

...
...
...

Si D merasa kepalanya sangat pusing, ada banyak wajah berputar mereka semua memperhatikan, beberapa detik kemudian dia mengenali sekitarnya, rupanya dia diatas kasur di kamarnya. Wajah anggota keluarganya mirip, mimik wajah kecemasan. Mereka menunggu.

"Mana dia?" sekonyong-konyong si D teringat kekasihnya saat mereka ngobrol di dermaga.

"Siapa?" mamanya bertanya dengan keheranan.

"Aku barusan ketemu si I, kami ngobrol di dermaga"

"Kamu dijemput papa ke kantor, kamu pingsan di meja kerjamu" papa angkat suara.

Si D merasa kembali pusing, semuanya berputar hingga akhirnya gelap.

... 

Si D tidak pernah memahami, apa yang terjadi, terutama saat teman si I mengabarkan berita duka, bahwa si I jatuh pingsan di toilet bandara. Dan tidak pernah siuman lagi. Ada gumpalan massa di kepalanya, sepertinya luka lama yang tidak diobati, dan menjadi penyebab pendarahan parah di kepala setelah benturan di kamar mandi tersebut.

Dia sudah pergi, ketempat yang tidak bisa dijangkau dengan berlari. 
si D berfikir sebaiknya dia mengucapkan belasungkawa pada keluarga si I, setidaknya lewat telepon. Dan menemukan sebuah panggilan tak terjawab, atas nama si I, di hari si I pingsan, disaat yang sama dia tak sadarkan diri di kantor.

Si I rupanya sempat menghubunginya, disaat kritis. Dan ada sebuah pesan suara untuknya.

"sayang.. maaf......"

Hanya dua kata saja isi pesan suara itu. Tapi cukup untuk membuat hati si D terasa hancur. Dan pandangannya kembali nanar, lalu berputar hingga semuanya menjadi gelap.

... gelap...

Cinta tak bisa digenggam, atau diremas kuat-kuat.. perlakuan seperti itu hanya akan merusaknya. Hanya tangan yang tenang, yang bisa menjaganya tetap utuh, sebelum ada angin besar yang menerbangkannya kembali pada sang bumi.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

English German French Arabic Chinese Simplified We use cookies to improve your experience. By your continued use of this site you accept such use. Thank You.