featured let go and forgive

Petualang Cinta #2

14.35.00Unknown

perburuan tanpa akhir

image by pixabay

Bultom, sebut saja begitu namanya, si petualang cinta yang kini menyukai udara pagi, memandang cermin dalam fikirannya dengan haru. Dan sesaat kemudian hembusan angin sepoi-sepoi membukakan lembaran memory di kepalanya.

"wis, cantiknyoooo" gumam seorang anak muda yang imut sekali sambil memandang tak berkedip pada seorang gadis berpakaian serba ketat. Tanpa menoleh, tampak sang gadis tersenyum angkuh dan melanjutkan berjalan seolah tak mendengar apa-apa.

Dalam ingatannya, dia dulu waktu muda benar-benar responsif, hampir tak ada peluang yang terlewatkan. Perlu dicatat, bahwa dia memang tidak ingat atau tidak sadar kalau pun ada peluang yang terlewat, karena saat itu yang menarik baginya adalah apa yang indah di "mata"nya.

Gadis demi gadis dia dekati dan berhasil ditundukkan, baik mereka sudah memiliki pasangan ataupun belum, dia adalah sang puma, pemenang dalam pertempuran. Apa yang mendorong Bultom muda untuk melakukan perburuan itu? Motifnya sederhana saja, dia mengikuti nalurinya. Yang kebetulan buas.

Apa yang terjadi dengan gadis-gadis yang dia gaet? mereka disenangkan telinganya oleh Bultom muda, yang memang berbakat dalam seni mengolah kata menjadi sanjungan logis yang mudah dimengerti dan mengena di hati para gadis tersebut. 

Dia ingat, para gadis itu menangis. Ketika mengetahui bahwa mereka tak lebih korban petualangan cinta. Tak ada kesetiaan seperti diucapkan, atau cinta seperti selalu dibisikkan dengan lembutnya di bahu mereka. Tak lebih dari pemuasan ego, dan naluri seorang lelaki muda. Tangis mereka tak berarti untuk Bultom muda, baginya, tangis mereka adalah cap jempol pengesahan, bahwa gadis-gadis itu memang mencintainya, dan artinya misi berburunya sukses besar.

Aliran kehangatan mengalir di pipi kanannya, rupanya air mata telah berkenan membasahi pipi petualang tua itu sekarang. Membayangkan ratusan wanita yang ditipunya, menyebabkan rasa sakit di ulu hati, rasa dosa-dosa yang menyiksa.

Demikian sedih, hingga tak sadar ada sepasang mata penuh rasa ingin tahu menyaksikan di sebelah kiri. Rupanya ada seorang pelajar sekolah menengah yang heran, kenapa ada aki-aki labil begini, pagi-pagi menangis di pinggir jalan sambil memandang langit.

"Terima Kasih dik" ujar Bultom menerima sehelai tissue dari anak muda itu.

"Om, perlu bantuan?" tanyanya serius, mungkin dalam benaknya, Bultom adalah pengelana yang kehabisan uang. Maklum, penampilan Bultom sekarang tak terurus, jenggot dan rambutnya tumbuh bebas tanpa aturan main.

"Terima Kasih, Om baik-baik saja, hanya sedang merenungkan perjalanan hidup" Bultom tersenyum manis sekali, terharu oleh ketulusan si anak muda.

"Ooh, perjalanannya masih jauh ya Om?" lanjut si anak muda, masih penasaran.

"Bukan perjalanan seperti itu Dik.. ini perjalanan cinta" jawab Bultom tanpa sanggup menjaga kharismanya lebih lama lagi, dia tertawa terbahak-bahak.

Si anak muda, ikut tertawa.. dia tidak mengerti, hanya ikutan ketawa saja, entah apa yang lucu, pikirnya.

"Perjalanan cinta.. hebat.. cerita dong Om" tak peduli orang tua sedang tertawa, si anak muda lanjut menyelidik.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

English German French Arabic Chinese Simplified We use cookies to improve your experience. By your continued use of this site you accept such use. Thank You.