featured let go and forgive

Petualang Cinta #3

10.21.00Unknown

perburuan tanpa akhir

image by pixabay
Edo, si anak muda itu, duduk tegap, dengan mata menyala dan sesekali mengernyitkan kening, atau melongo keheranan saat Bultom menuturkan perjalanan cintanya.

"Kok bisa ya Om... apa mereka ga tau Om cuma godain?" Edo tak habis pikir.

"Entah, mungkin mereka tahu, mungkin tidak, mungkin memang nggak peduli" Bultom tersenyum menjawab pertanyaan si anak muda.

Petualang muda itu, sibuk di organisasi, pikirnya, dengan ikut organisasi dia lebih dikenal banyak wanita, dan kesempatan emas untuk menonjolkan diri. Walaupun ternyata tak mudah, karenanya dia jadi banyak belajar tentang hal lain, seperti komunikasi untuk lobi, manajemen, hingga mengonsep ad/art organisasi. 

Bultom muda kini sudah menjadi "maha"siswa. Sebuah sebutan yang sarat beban. 

Hingga berhasil menjadi kepala seksi jurnalistik di kampusnya, Bultom adalah seorang yang giat belajar, dan penyemangatnya adalah para gadis yang berkenan membagi hatinya.

Lama berkecimpung di dunia hubungan interpersonal, khususnya lawan jenis, menyebabkan Bultom dikenal sebagai seorang flamboyan, tak sedikit yang membenci, walaupun tampaknya lebih banyak lagi yang menyukainya, sekalipun telah mengetahui bahwa Bultom, hanyalah seorang "petualang", bukan lelaki sungguhan.

Keuntungan demi keuntungan diperoleh, berbekal pengetahuan psikologis wanita dan kemampuan mengatur jadwal temu. Hal ini memudahkan karirnya setelah meraih magna cum laude dari institusi tempatnya kuliah.

Edo kini tak pernah lagi terbelalak, dia terus menerus mengerutkan kening. Bultom masih bercerita.

"Stop Om, tunggu dulu... jadi Om masih berhubungan dengan semua mantan itu?" tak sanggup menahan rasa penasaran, Edo menginterupsi.

"Sebagian besar, tidak semuanya sih, ada juga yang sampai sekarang jadi seperti musuh sama Om" Bultom meluruskan persepsi Edo.

"Ooh gitu ... lanjutin Om" kini Edo yang menjadi komandan.

Menjalani keseharian di dunia pekerjaan tak selalu mulus dengan cara berfikir seorang flamboyan, di hatinya selalu merindukan petualangan, dan penaklukan. Dalam benaknya, segala cara boleh dilakukan untuk mencapai tujuan, dan hal ini berbenturan dengan sikap dan mindset orang lain yang berhubungan dengannya. 

Kendati pimpinan Bultom sangat menyukainya karena selalu memiliki cara berfikir yang tidak lazim dan efisien, Bultom tidak disukai oleh banyak rekan kerja, khususnya kaum pria. Pasalnya, hampir seluruh pegawai wanita di kantornya mengeluhkan Bultom yang kerap mengguncangkan hati mereka dalam setiap perbincangan.

Bultom hanya tersenyum, kenapa orang menyalahkan pesonanya, pikirnya.

Edo tidak hanya mengerutkan kening, tapi juga memonyongkan mulutnya, sambil bertopang dagu. Baginya, ini adalah pelajaran yang diluar kapasitasnya sebagai seorang pelajar sekolah menengah atas.

"Jadi.. masalahnya dimana Om?" dengan lambat Edo bertanya, kepalanya terasa penuh sesak.

"Disini" sahut Bultom, sambil menunjuk dada dan pelipisnya.

Goa kegelapan yang hingar bingar oleh naluri penjelajahan serta petualangan itu, demikian gelap. Seluruh waktu, tenaga, fikiran dan aset yang dimiliki seseorang tertumpah pada pemuasan naluri petualangan tersebut. Tak ada kepedulian pada saudara yang membutuhkan, tak ada rasa iba pada anak yang terlantar, bahkan, tak peduli pada diri sendiri. Hingga sang waktu menunjukkan wajahnya yang tidak imut lagi, dan tubuhnya yang tidak seperkasa belasan tahun silam.

Ibu yang masih repot oleh urusan mencari uang tidak ditolong sebagaimana mestinya, ayah yang telah meninggal tidak lagi ada dalam ingatannya. Baginya, yang ada hanya dirinya sendiri, kalaupun menolong orang lain, maka ada sesuatu yang menjadi tujuan, Bultom adalah orang yang menafsirkan segala sesuatu secara fisis. Dia tak percaya keajaiban, kuatnya logika dan pengetahuannya yang luas tak memberinya ruang untuk memahami kekuatan lain, hingga kekuatan itu menunjukkan bukti melalui dirinya sendiri yang semakin lemah dan rapuh.

Edo menuliskan bagian-bagian penting yang berhasil nyangkut di kepalanya. Sesekali dia bersandar di kursi belajarnya sambil berpangku tangan.. 

Baginya, obrolan tadi sore sangat berarti.

Petualangan cinta yang didengarnya membuatnya termotivasi.

Edo tersenyum sendiri, kepalanya penuh rencana.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

English German French Arabic Chinese Simplified We use cookies to improve your experience. By your continued use of this site you accept such use. Thank You.